Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rahasia Kecerdasan dan Barokah Ilmunya KH. Baha’uddin Nursalim ( Gus Baha )

Gus Baha’ atau KH. Baha’uddin Nursalim adalah alumni pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang. Seorang santri kesayangan Hadratus Syaikh Maimoen Zubair. Tak kurang dari mufassir sekalibar Prof. Quraish Syihab, memuji kecerdasan Gus Baha. Menurut ayahanda Najwa Shihab itu, Gus Baha adalah sosok langka karena menguasai tafsir sekaligus fikih.

Kesempatan langka. Kita akan jarang menemui Gus Baha’ mengisi pengajian umum, sebab seperti yang sering diutarakan di berbagai kesempatan kajian rutin, bahwa beliau, --selain tidak ingin juga tidak mau-- kecuali dua orang yang mengundangnya. 

Pertama guru/kiai beliau dan yang kedua, teman abahnya. Beliau dengan rendah hati mengaku tidak cukup kemampuan untuk menjelaskan kontruksi Islam yang utuh hanya satu atau dua jam pengajian. Beliau berkeyakinan Ngaji itu harus hatam min awwalihi hatta akhirihi. Sebagaimana sering dikatakan mushonnif dengan kaedah “kama saya’ti” (sebagaimana yang akan datang), dan “kama sabaqo/ kama taqoddam” (seperti yang telah lewat/lalu). Bagaimana kita faham keduanya jika tidak ngaji rutin.

Kecerdasan Gus Baha

Biografi Gus Baha Rembang yang selanjutnya yaitu tentang kecerdasan beliau. Saat menimba ilmu di Pondok Pesantren A-Anwar, keilmuan Gus Baha’ mulai menonjol seperti ilmu hadits, fiqih, dan tafsir.

Dalam ilmu hadis, Gus Baha mampu mengkhatamkan hafalan Sahih Muslim lengkap dengan matan, rowi dan juga sanadnya. Selain Sahih Muslim, beliau juga berhasil mengkhatamkan dan hafal isi kitab Fathul Mu’in dan kitab-kitab gramatika bahasa arab seperti ‘Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik.

Bahkan menurut sebuah cerita, saking banyaknya hafalan yang dimiliki oleh Gus Baha, menjadikan beliau sebagai santri pertama Al-Anwar yang memegang rekor hafalan terbanyak. Selain itu, menurut cerita lain juga menyebutkan bahwa, ketika akan mengadakan forum musyawarah atau batsul masa’il di pondok banyak teman-teman Gus Baha yang enggan dan menolak kalau Gus Baha untuk ikut dalam forum tersebut, sebab beliau dianggap tidak berada pada level santri pada umumnya karena kedalaman ilmu, keluasan wawasan dan banyaknya hafalan yang dimiliki oleh beliau.

Maka, atas dasar kedalaman keilmuan yang dimiliki Gus Baha, hal ini yang kemudian membuat Gus Baha diberi kepercayaan untuk menjadi Rois Fathul Mu’in dan Ketua Ma’arif di jajaran kepengurusan Pondok Pesantren al-Anwar.

Selain menonjol dalam keilmuannya, beliau juga merupakan sosok santri yang dekat dengan kiainya. Dalam berbagai kesempatan, beliau sering mendampingi guru beliau yaitu Syaikhina KH. Maimoen Zubair untuk berbagai keperluan. Mulai dari sekedar berbincang santai, hingga urusan serius seperti mencari ta’bir dan menerima tamu-tamu ulama-ulama besar yang berkunjung ke Al-Anwar. Hingga beliau dijuluki sebagai santri kesayangan Syaikhina KH. Maimoen Zubair.

Dalam sebuah cerita, beliau pernah dipanggil untuk mencarikan ta’bir tentang sebuah persoalan oleh Syaikhina. Karena saking cepatnya ta’bir itu ditemukan tanpa membuka dahulu referensi kitab yang dimaksud, hingga Syaikhina pun terharu dan ngendikan “Iyo Ha’… Koe pancen cerdas tenan” (Iya Ha’… Kamu memang benar-benar cerdas).

Gus Baha juga kerap dijadikan contoh teladan oleh Syaikhina saat memberikan mawa’izh di berbagai kesempatan tentang profil santri yang ideal. “Santri tenan iku yo koyo Baha’ iku….” (Santri yang sebenarnya itu ya seperti Baha’ itu….) begitu kurang lebih ngendikan Syaikhina.

Selain mengeyam pendidikan di Pondok Pesantren al-Anwar Rembang, pernah suatu ketika ayahnya menawarkan kepada Gus Baha untuk mondok di Rushoifah atau Yaman. Namun Gus Baha menolaknya dan lebih memilih untuk tetap di Indonesia, berkhidmat kepada almamaternya yaitu Madrasah Ghozaliyah Syafi’iyyah Sarang, PP. al-Anwar dan pesantrennya sendiri LP3IA.

Prof. Quraisy Syihab pernah berkata “Sulit ditemukan orang yang sangat memahami dan hafal detail-detail Al-Qur’an hingga detail-detail fikih yang tersirat dalam ayat-ayat Al-Qur’an seperti Pak Baha.”

Ustadz Adi Hidayat bahkan menyebut Gus Baha sebagai “Manusia Qur’an” hal ini tidak lebih sebagai gambaran akan kedalaman ilmu Gus Baha.

Namun dibalik seseorang yang alim pasti ada sosok orang tua yang luar biasa. Gus Baha adalah putra seorang ulama ahli Qur’an KH. Nursalim dari Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah.

Dari silsilah ayah beliau inilah sejak dahulu keluarga ini terkenal sebagai penghasil ulama-ulama Ahlul Quran yang handal.

Posting Komentar untuk "Rahasia Kecerdasan dan Barokah Ilmunya KH. Baha’uddin Nursalim ( Gus Baha )"